Assalamualaikum
Hai sobat Blogger, hari ini aku baru aja tes bikin SIM. Pertama dateng langsung parkir motor. Dah ada aja yang nawarin, "mas, mau bikin SIM baru mas?", aku bergeming. Yap, aku tau dia calo ^^. Aku pun beranjak ke pos pelayanan pertama. Oh iya aku bikin SIM di polwiltabes Semarang ^^. Aku diminta KTP asli dan fotokopi dua buah. Trus tes kesehatan di ruang depan pos tadi, sebenernya gak di tes apa-apa sih akunya. tau2 mbak nya di dalem klinik bilang , "tiga puluh lima ribu mas", oke dan aku mengeluarkan duit 35rb dari kantong dan mbak tadi memberiku sebuah surat keterangan sehat berwarna pink.
Kemudian aku berlanjut ke loket 1, tempat menyerahkan surat berwarna merah muda tadi ke bapak-bapak polisi di loket 1. Tak lama kemudian beliau memberiku sebuah formulir biodata untuk ku isi. "Mas, tolong diisi, trus langsung ke ruang teori ya di sebelah sana". Aku mengangguk dan kemudian mengisi formulir tadi.
Lalu aku beranjak menuju ruang teori yang terletak tak jauh dari loket 1 tadi. Aku bertemu polisi lain, dan menyerahkan formulir tadi kepadanya. Katanya aku harus menunggu giliran untuk tes, ya, tes teori lalu lintas. Akhirnya namaku pun dipanggil bersama nama seorang wanita lain yang juga mau tes teori lalu lintas. Kami berdua pun masuk ruangan bersama seranng polisi muda dan duduk di meja dengan nomor 1 dan 2. Di hadapanku ada sebuah mouse dan di depan mouse itu ada sebuah stiker bertuliskan Benar dan Salah. Polisi muda tadi menjelaskan bahwa kami akan menjalani sebuah tes teori audio visual tentang lalu lintas. Ada 30 soal dan kami hanya diminta menjawab benar atau salah terhadap soal yang akan ditayangkan melalui sebuah LCD proyektor di depan kami. Jika benar klik kanan mouse, jika salah maka klik kiri. Hanya itu instruksi yang diberikan. Kami dinyatakan lulus jika benar menjawab minimal 21 dari 30 soal. Dari situ aku berani bertaruh bahwa tak akan ada satu pun dari kami berdua yang lulus.
Skip skip skip. Dan kami pun selesai menjawab tes tadi. Tak lama kemudian sebuah nilai muncul. Benar, aku hanya benar menjawab 11 sedangkan cewek di sebelahku hanya benar 10. Tak lama kemudian datang seorang polisi yang berbeda kepada kami.
"Kok nggak lulus semua tuh gimana?", katanya dengan senyum mengejek
"Tadi soalnya nggak jelas, Pak", kataku menjawab dengan nada datar
"Nggak jelas gimana?", lanjut polisi tadi dengan nada lebih tinggi, seakan tak mau soal tadi dibilang nggak jelas.
"Ya pokoknya nggak jelas, rambu-rambunya nggak lengkap mana yang satu arah?, mana lampu lalu lintas untuk jalur ini? mana tanda larangan nggak boleh belok?", kataku tak mau kalah
"Ya makanya diperhatikan dong rambu-rambunya! Dahulukan juga jalur utama!", katanya setengah marah. "Yaudah berarti ngulang minggu depan, bawa fotokpi KTPnya juga", lanjutnya menyudahi.
"Ya", kataku dengan tanpa menatap polisi itu.
Aku dan cewek di sebelahku tadi pun beranjak keluar ruangan. Melalui meja dan kursi-kursi ujian. Kami belum mencapai pintu keluar sampai polisi yang hampir bertengkar denganku tadi memanggil sang cewek. Namanya Adelia. Ternyata dia dipanggil ke sebuah ruangan kecil yang transparan. Tak mempedulikannya, aku terus jalan keluar. Di luar aku baru ingat bahwa duit bisa berbicara di kepolisian. Ditambah dengan rasa penasaran dengan apa yang dilakukan polisi tadi pada Adelia, aku pun kembali masuk. Aku menemui polisi muda yang pertama tadi yang memberiku instruksi tes. Aku berkata bahwa besok pagi aku sudah harus ke Jogja karena Rabu sudah kuliah lagi, dan aku minta gimana caranya biar SIM ku bisa jadi besok. Yap akhirnya aku merogoh kocek 350000 rupiah. Polisi itu berkata bahwa yang bisa dia lakukan hanya mengusahakan sertifikat sekolah mengemudi dan pembiayaan di BRI. So, aku pun mikir juga, duit segitu tergolong murah untuk masa berlaku SIM 5 tahun.
Adelia ternyata sudah keluar ruangan. Dalam hati aku berbicara. Kenapa tadi cuma Adelia yang dipanggil? kenapa aku tidak? apa karena aku mahasiswa? yap hari ini aku membuktikan bagaimana kata orang-orang tentang SIM di kepolisian. Aku merasa tes tadi sengaja dibikin samar dan tidak jelas biar kami semua tidak lulus. Bagaimana dengan sobat-sobat? apakah juga demikian? Atau ada yang pernah lulus tes teori audio visual itu? I wonder know that ^^. Semoga bermanfaat ya ^^
Wassalamualaikum
No comments:
Post a Comment